Postingan

Menampilkan postingan dengan label linux

Menonaktifkan Touchpad ASUS A46CM di Slackware 14.0

Kangen ngoprek, saya buka kembali Slackware di laptop saya. Rasanya sudah lama saya tidak membuka Slackware yang ada di laptop saya. Seingat saya, terakhir saya membuka Slackware setelah saya menyelesaikan Tugas Akhir saya. Kira-kira 6 (enam) bulan yang lalu. Sudah cukup lama ya? He he he. Saya sudah lupa cara ngoprek-nya. He he he. Sedikit membaca tutorial dan bertanya ke pakarnya, akhirnya saya nekat untuk mencoba lagi. Maklum, saya kan newbie. Jadi, masih belum tau banyak tentang Linux. Hal yang saya coba adalah me-nonaktifkan touchpad yang terdapat pada laptop saya. Saya menggunakan Asus A46CM. Menurut saya, laptop ini sudah sangat compatible dengan Linux, apalagi Slackware. Touchpad  Asus A46CM berjalan sesuai dengan fungsinya pada Windows dan tidak perlu konfigurasi lagi. Nah, masalahnya saya tidak terbiasa menggunakan touchpad. Saya lebih terbiasa menggunakan mouse. Aktifnya touchpad sangat mengganggu saya sewaktu mengetik. Alhasil, saya mencoba mencari via Google bagai...

Kembali Ngoprek Slackware

Setelah sekian lama bercengkerama dengan TA, saya kembali ngoprek Slackware. Sebelumnya saya hampir tidak pernah menggunakannya karena sedang dilanda kegalauan karena mengerjakan TA. Pekerjaan ini sangat menyita waktu saya. He he he. Sekarang di laptop saya, telah ter-install Slackware 14 yang baru rilis beberapa waktu yang lalu. Hasilnya, tidak ada masalah lagi dengan HP WMI yang selama ini menjadi masalah belum dapat dipecahkan oleh Slackware. Akhirnya, dengan kernel yang baru, Slackware mampu mengatasi masalah HP WMI. Laptop saya pun dapat menggunakan interface wireless- nya dengan mudah dan tidak repot. He he he. Di pekerjaan saya yang sekarang, WinBox menjadi kebutuhan yang sangat mendasar karena saya menggunakan MikroTik router untuk memanajemen jaringan di tempat saya bekerja. Ketika bekerja dengan Slackware  Linux, hal ini membuat saya repot. Memang,  MikroTik   router dapat diakses melalui web browser (web-based) maupun Telnet dan SSH. Namun, saya tetap nyam...

Menginstall VLC Player di Slackware 13.37

Kebiasaan meng-install program atau yang lain pada sistem operasi Windows atau Debian dan turunannya, membuat saya agak susah ketika mencoba meng-install pada distro Linux yang lain. Ini yang saya rasakan ketika meng-install VLC Player di Slackware. Setelah membaca tulisan yang ada di sini dan di sini, saya baru paham, ternyata saya harus meng-compile script  (SlackBuild) dari program yang akan saya install, baru kemudian saya dapat meng-install-nya dengan perintah installpkg. Meng-compile script SlackBuild untuk VLC Player sendiri sudah butuh waktu yang lama. Belum meng-install dependency package yang dibutuhkan untuk meng-install VLC Player-nya. Hedeh. Menyesal juga tidak belajar distro lain dari dulu. Update Saya telah berhasil meng-compile dan meng-install VLC Player. Bagi yang ingin menggunakan file hasil compile-an saya, silahkan download di sini. Nama file-nya adalah  vlc-2.0.3-i486-1alien.txz.

Belajar Menggunakan Slackware

Kemarin sampai dengan hari ini saya berkutat dengan Slackware. Mulai dari melakukan instalasi hingga mencoba mengoprek. Sudah lebih dari 3 kali saya meng-install distro Linux favorit dosen saya ini dan hasilnya gagal. He he he. Saya terus mencoba dan akhirnya berhasil (tulisan ini ditulis sewaktu saya OS Slackware). Permasalahannya ada pada kesalahan dalam meng-install LILO (karena saya menggunakan dual boot, Linux dan Windows) dan KDE yang entah mengapa (saya kurang tahu penyebabnya) crash sehingga tidak mau masuk ke GUI ketika saya ketikkan perintah startx. Hedeh. Berhasil melakukan instalasi, bukan berarti masalah selesai. Masih ada masalah yang lain, yaitu wireless (yang nanti saya akan coba tuliskan di post lain). Sedikit informasi, saya meng-install Slackware di laptop saya, Compaq Presario V3908TU. Laptop ini menggunakan HP WMI. Setelah membaca tutorial di sana sini dan bertanya kepada pakarnya, akhirnya wireless berhasil menyala walaupun setiap kali dihidupkan, saya harus ...

(Susahnya) Menggunakan Slackware

Saya memang pemula di bidang Linux. Saat ini saya sudah berhasil meng-install Slackware 13.37 dan sedang menggunakannya. Ternyata, menggunakan Slackware itu susah. Mungkin karena saya belum terlalu paham Linux pada umumnya dan Slackware khususnya. Saya merasa lebih mudah menggunakan Debian dan turunannya, khususnya Linux Mint dan Ubuntu. Mungkin karena saya sudah terbiasa dengan kedua distro Linux tersebut. Banyak permasalahan yang saya alami ketika menggunakan Slackware. Kalau ada waktu luang, saya akan tuliskan masalah-masalah yang saya alami di blog ini. He he he. Saat ini, saya menggunakan Slackware terbaru, versi 13.37, karena Slackware 14 belum secara resmi rilis.

Diskusi dengan Dosen

Kemarin saya bertemu dosen untuk berdiskusi dan ngobrol tentang salah satu matakuliah yang beliau ampu di semester ini, yaitu Administrasi Jaringan. Seperti namanya, mahasiswa akan mempelajari sedikit hal (karena waktu yang terbatas) tentang Linux dan UNIX yang berhubungan dengan jaringan, dan cara menjadi seorang System Administrator (SysAdmin) yang baik. Beberapa hari yang lalu kami sempat ngobrol lewat DM di Twitter. Beliau meminta saya untuk membantunya menjadi asisten di praktikum matakuliah itu. Terus terang saya tidak begitu menguasai per-Linux-an. He he he. Selama ini, yang saya lakukan hanyalah mencoba mengikuti tutorial yang ada, mengubahnya sedikit, sesuai dengan kasus saya, kemudian mencobanya. Setelah kemarin ngobrol, akhirnya saya memutuskan untuk menyanggupi permintaan beliau dengan catatan saya dibimbing dan diajari. He he he. Karena beliau sangat cinta dengan distro Slackware, dan ada beberapa pemikiran yang mendasarinya, akhirnya (sedikit bocoran) diputuskan bahw...

Uninstall Netbeans 7.2.1 di Linux Mint 12

Iseng mencoba, saya mencoba melakukan uninstall Netbeans 7.2.1 yang sudah saya install di Linux Mint saya. Ternyata caranya sangat mudah (karena saya tidak meng- install GlassFish Server, maka saya tidak perlu meng- uninstall- nya). Hanya masuk pada direktori tempat Netbeans 7.2.1 ter- install, kemudian menjalankan file uninstall.sh yang terdapat pada direktori itu. Karena Netbeans di Linux Mint saya ter- install pada direktori /usr/local/ dengan nama netbeans-7.1.2, maka saya masuk ke direktori netbeans-7.1.2 dengan perintah # cd /usr/local/netbeans-7.1.2/. Kemudian, saya menjalankan file uninstall.sh dengan perintah ./uninstall.sh. Setelah itu, saya tinggal mengikuti wizard untuk meng- uninstall- nya. Selesai. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat di sini.

Mengoprek Linux Mint (Lagi)

Setelah kesibukan yang membuat saya tidak ngeblog (alasan) telah berakhir, malam ini saya bisa ngoprek Linux Mint lagi. Senang juga, walau seringkali belum dapat banyak memahami tutorial-tutorial yang saya baca. Tetapi, saya sekarang sudah sedikit banyak tahu tentang perintah-perintah yang digunakan pada terminal. Saya memang masih newbie, dan banyak yang harus saya pelajari. Sekarang, saya masih ngoprek dan belajar agar dapat menggunakan wine dan sedang meng- install jDownloader, sebuah aplikasi yang digunakan untuk download manager pada linux. jDownloader adalah aplikasi yang disarankan oleh seorang teman ketika ngobrol tentang download manager pada Linux. Sebenarnya sudah lama, tetapi saya baru sempat meng- install- nya sekarang. Sudah dulu ngeblog- nya. Menunggu update jDownloader dan download wine dulu. He he he.

(Masih) Berkutat dengan RADIUS Server: Pencerahan

Kalau kemarin saya mencoba meng- install daloRADIUS di Ubuntu Server 10.04 LTS dan berhasil dengan mengikuti tutorial yang saya post- kan di sini,   kemarin saya menemukan tutorial yang baru. Saya tidak mencoba menggunakan router karena ketika saya coba baca dan pahami lagi tutorial yang di post pada sebuah blog, saya menjadi ragu. Sesuai pemahaman saya yang saya sudah post- kan di sini, dan baca-baca lagi di sana sini, pemahaman saya tentang daloRADIUS menjadi bertambah. Menurut saya, daloRADIUS adalah sebuah software yang dibuat untuk memanajemen RADIUS server yang dibangun menggunakan freeRADIUS. Mengapa ada daloRADIUS? Agar lebih mempermudah kita (orang awam) untuk melakukan CRUD (Create, Read, Update dan Delete) pada database freeRADIUS. Artinya, kita sebagai pengelola RADIUS server dapat dengan mudah mengelola akun mana yang dapat terhubung dengan hotspot kita, akun mana yang tidak dapat terhubung, menghapus akun, menambah akun, dan sebagainya. Dikatakan mempermu...

(Masih) Berkutat dengan daloRADIUS

Selesai meng- install daloRADIUS yang saya ceritakan di post ini , tadi saya mencoba meng- install- nya di kampus dengan menggunakan komputer seadanya. Selesai meng- install apa yang saya butuhkan (OS, package yang update, LAMP Server dan OpenSSH Server), saya kemudian mengkonfigurasi router agar server yang saya buat dapat saya remote dari mana saja. Setelah selesai, saya meng- install daloRADIUS. Selesai install dan berhasil, saya mencoba belajar menggunakannya. Sedikit paham dengan daloRADIUS (paling tidak, saya sudah bisa membuat  user. He he he), saya mencoba menggunakan sebuah komputer untuk menjadi client. Disinilah dimulai kebingungan saya. Client tidak dapat terkoneksi dengan internet maupun daloRADIUS. Baca di sana sini, katanya harus menggunakan router atau Access Point (AP). Namun, karena waktu, saya harus pulang dan tidak sempat mengkonfigurasi router. Sesampainya di rumah, tidak dapat melanjutkan karena saya harus pergi, menghadiri acara mitoni seorang te...

Menginstall DaloRADIUS di Ubuntu Server 10.04 64-bit

Selain membuat mail server menggunakan Zimbra Mail Server, saya dan teman yang KP di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta, juga mengimplementasikan RADIUS server. Kami bingung memilih software yang cocok. Pertama kami pilih EasyHotspot yang di- install via ehdb. Namun, dosen pembimbing kami tidak menyetujuinya karena OS yang digunakan adalah OS versi lama (kalau tidak salah Ubuntu 8.04). Kami mencoba meng- install terpisah, namun gagal. Semuanya bisa ter- install dengan baik. Tetapi ketika kami mencoba login, username dan password admin (yang merupakan default setting yang ditulis di dokumentasinya) dinyatakan salah oleh sistem nya. Kebingungan ini membuat kami stuck hampir tiga minggu. Malam ini saya iseng  mencoba meng- install RADIUS server menggunakan daloRADIUS, sebuah open-source software yang memilik dasar yang sama dengan hampir sebagian software RADIUS server, freeRADIUS. Sebelumnya, saya juga pernah meng- install- nya, namun gagal. Saya tidak tahu pasti apa peny...

Menginstall Oracle VirtualBox di Linux Mint 12

Setelah semua package up-to-date, sekarang waktunya untuk meng- install beberapa software yang saya butuhkan, salah satunya Virtual Machine. Saya menggunakan VirtualBox buatan Oracle. Sebenarnya, menurut orang-orang yang sudah pakar, VMWare lebih bagus, menarik dan memuaskan daripada VirtualBox. Namun, VirtualBox lebih ringan. Terus terang, saya belum begitu paham dengan virtual machine. Dulu, sewaktu saya praktikum, saya menggunakan VirtualBox (kalau tidak salah, saya sudah agak lupa. He he he). Maka, saya menggunakan VirtualBox karena sudah familiar. Untuk meng- install- nya, saya harus men- download- nya di sini. Saya menggunakan versi All Distribution 32-bit  karena saya menggunakan Linux Mint 12 (Lisa) 32-bit. Seharusnya bisa menggunakan versi Ubuntu 11.10 (Oneiric Ocelot) 32-bit karena memang Linux Mint 12 (Lisa) dibuat dari Ubuntu 11.10 (Oneiric Ocelot). Namun, agar aman, saya gunakan  versi All Distribution 32-bit  saja. Setelah selesai download, saya meng- i...

Menginstall Driver Nvidia di Linux Mint 12

Ubuntu dan Linux Mint tidak menyertakan driver nvidia dalam packages mereka. Kita harus men- download dan meng- install- nya secara manual. Saya tidak tahu pasti penyebabnya. Kemungkinan masalah license. Untuk yang ingin mudah meng- install driver nvidia tersebut, cukup langsung kli Menu -> System Tool -> System Setting kemudian pilih Additional Drivers. Ditunggu sebentar, nanti akan muncul kotak dialog Additional Drivers. Pilih NVIDIA accelerated graphics driver (version current) [Recommended] kemudian klik Activate . Setelah itu, tunggu sampai semuanya selesai di -download dan di- install . Setelah semua proses selesai, reboot dan silahkan lihat hasilnya apa. He he he. Saya tadi menggunakan cara di atas, tetapi gagal. Saya tidak tahu persis apa penyebabnya. Kemudian saya coba lakukan install via terminal. Caranya juga sederhana. Silahkan lihat di sini (Gampangnya, Linux Mint 12 (Lisa) dibuat dari Ubuntu 11.10 (Oneiric Ocelot. Jadi, caranya sama saja dengan meng- inst...

Upgrade Kernel 3.2.0 di Linux Mint 12 via Debian Package

Daripada pusing-pusing berpikir dan menghabiskan banyak waktu tentang compile kernel manual (saya pernah compile kernel secara manual, sekali saja. He he he), saya memutuskan untuk mencari artikel tentang meng- upgrade kernel via Debian Package. Ternyata cukup mudah juga. Sama mudahnya dengan menggunakan apt-get update && apt-get dist-upgrade via terminal. Saya tadi mengikuti artikel yang ada di sini. Terdapat sedikit perubahan dengan tampilan yang menggunakan kernel 3.2 ini. Yang paling kelihatan, menu yang biasanya letaknya di atas, sekarang menjadi di bawah, tetapi sama-sama di pojok kiri layar (kiri saya). Di pojok kiri atas, ada seperti menu juga, simbolnya angka delapan yang di horisontalkan. Saya belum paham apa itu. Apakah unity? Atau HUD? Sekarang, saya akan mencoba dan mencari tahunya dulu. Semoga tidak kernel panic lagi. He he he.

Kernel Panic.

Selesai meng- update menggunakan apt-get dist-upgrade dengan repository Linux Mint 12 (maksud saya, saya tidak mengubah file /etc/apt/source.list karena saya ingin mencoba kecepatan download bila menggunakan  repository luar), saya me- reboot komputer saya. Versi kernel-nya berubah. Itu artinya kernel yang tadi saya update berhasil ter- update dengan baik. Ketika saya mencoba melakukan update package ke repository, tiba-tiba komputer saya mengalami kernel panic. Hedeh. Saya memang tidak expert dan ingin terus belajar tentang linux. Solusi yang mungkin sekarang bagi saya adalah meng- upgrade lagi versi kernel- nya ke versi yang lebih tinggi. Semoga tidak kernel panic lagi. Lanjut ngoprek dulu.

Internet juga Bermasalah di Linux Mint 12

Masih sama dengan posting- an saya beberapa waktu yang lalu, ketika selesai meng- install Linux Mint 12 (Lisa), komputer saya juga tidak mau terhubung ke internet. Hanya mau terhubung ketika proses merestart network dilakukan (/etc/init.d/networking restart). Ketika proses itu selesai dilakukan, network kembali ngadat. Hedeh. Saya benar-benar kebingungan. Saya coba tanya dengan Bapak Onno W. Purbo via twitter, beliau menjawab mungkin kernel-nya harus di upgrade karena versi yang sekarang (mungkin) belum mengenal gigabit ethernet. Logis juga menurut saya. Kemudian saya tanya ke Bapak Willy Sudiarto Raharjo, pakar Linux sekaligus Admin Forum Linux Indonesia, via twitter juga, beliau meminta saya mengecek network card- nya dengan perintah ifconfig -a dan lspci | grep -i ethernet. Saya coba, dan memang benar. Hasilnya memang menunjukkan bahwa network card- nya adalah gigabit ethernet. Hedeh. Saya lelah. Saya putuskan untuk berhenti dan beristirahat. Sekarang, keanehan terjadi. Sa...

Permasalahan Ubuntu 11.10 di Komputer

Setelah selesai mengoprek semua yang dibutuhkan semalam, akhirnya saya beristirahat. Hari ini rencananya mulai ngoprek lagi. Tetapi setelah saya pikir-pikir, sepertinya tidak jadi saja. Beberapa kali Ubuntu yang saya install hang tanpa jelas kenapa, koneksi  internet- nya juga hidup mati, sangat tidak stabil. Lalu dua kali Ubuntu saya tiba-tiba mengeluarkan layar hitam yang bertulisan banyak sekali (entah apa, saya kurang paham), dan salah satu barisnya menyatakan bahwa kernel- nya memiliki bug. Hedeh. Di sisi lain, performanya juga sepertinya tidak begitu stabil. Setelah meminta saran, akhirnya ada seorang dosen yang merekomendasikan Linux Mint 12. Walaupun turunan Ubuntu (apakah Linux Mint bisa dikatakan turunan Ubuntu?), tetapi semoga tidak seperti apa yang saya alami ketika menginstall Ubuntu. Baiklah, saya akan mencobanya.

Internet Bermasalah di Ubuntu 11.10

Setelah mengoprek GRUB, saya mencoba restart untuk mengecek apakah berhasil atau tidak. Ternyata berhasil, sesuai dengan harapan. Saya coba masuk ke Ubuntu 11.10 lagi. Hasilnya agak sedikit mengejutkan. Internet tiba-tiba mati dan tidak bisa digunakan. Melihat indikasinya, tidak ada interface yang menyala. Saya semakin kebingungan. Saya lihat ke belakang komputer, interface- nya menyala, tetapi hanya satu lampu. Saya berpikir apakah mungkin kabelnya rusak (putus). Setelah membaca di forum dan melihat lagi spesifikasi motherboard komputer saya, ternyata interface- nya bukan Fast Ethernet (Ethernet), tetapi Gigabit Ethernet. Hedeh. "Apakah saya harus membelinya?", pikir saya. Coba tengak tengok internet via laptop, akhirnya ketemu. Untuk memfungsikannya kembali, harus menggunakan ethtool. Masalah baru lagi. Bagaimana cara downloadnya? Komputernya tidak bisa terkoneksi dengan internet. Untunglah komputer ini dual boot. Akhirnya saya menggunakan Windows 7 untuk mendapatkan p...

Mengubah Default Boot di GRUB

Setelah selesai dengan permasalahan harddisk, penyelesaian masalah berikutnya adalah membuat Windows 7 Professional 64-bit menjadi yang default ketika input untuk memilih sistem operasi. Ternyata Ubuntu 11.10 menggunakan GRUB2. Setelah baca di sana-sini lagi, akhirnya saya berhasil mengubah default boot-nya menjadi Windows 7 Professional 64-bit dan mengubah waktunya menjadi hanya 5 detik saja. Saya tidak membahas caranya di sini karena sudah banyak tutorialnya. He he he. Lanjut ngoprek lagi.

Membuat Extended Partisi

Ngoprek komputer selama dua hari ini membuat saya kebingungan. Kebutuhan dual boot (Windows 7 Professional 64-bit dan Ubuntu 11.10) membuat saya harus bekerja ekstra dalam membagi partisi harddisk. Seperti yang kita tahu, sistem operasi hanya mengijinkan untuk membuat empat partisi saja yang sifatnya primary. Bila quota itu telah terpenuhi, maka sistem operasi tidak dapat membuat partisi lagi, walaupun partisi tersebut akan dibuat dengan sifat logical. Membaca tutorial di sana-sini, akhirnya membuat saya dapat memecahkan permasalahan ini. Dengan menggunakan GParted, saya dapat membuat logical partition sebanyak yang saya inginkan. Setelah meng -install Ubuntu, install- lah GParted. Setelah proses instalasi selesai, masuk ke GParted. Untuk masalah saya ini, saya memang mengosongkan harddisk terlebih dahulu (kecuali untuk windows system (100 MB), partisi Sistem Windows 7 (biasanya sering kita kenal dengan nama C), dan partisi sistem Ubuntu 11.10). Sisanya biasa dikenal dengan isti...